TEMA BUKU
 Bahasa & Sastra 
 Ekonomi Politik 
 Filsafat 
 Hukum 
 Internasional 
 Islam 
 Geografi 
 Budaya 
 Pariwisata 
 Pembangunan 
 Pendidikan 
 Politik 
 Psikologi 
 Sejarah 
 Sosial 
 Tata Negara 
 Wanita 
 Statistik 
 Teori dan Metodologi 
 Populer 


  I n f o    B u k u
 
Anies MQ
Duh Gusti, Ajari Aku Jatuh Cinta
a poetical diary by Anies MQ

xxx + 87 hlm; 12,5 x 18 cm
ISBN: 979-99604-3-6

Harga: Rp.23.000

Terlalu banyak suara hati yang dipaksakan ke alam bawah sadar. Akibatnya, kesadaran manusia tentang kehidupan sering bermakna semu. Kesadaran seperti itu seharusnya dihapuskan untuk selamanya dari kamus hidup manusia. Karya-karya puisi Anies MQ ini adalah satu dari sejumlah bukti bahwa (i) suara hati adalah kekayaan jiwa manusia yang layak dipupuk dan disirami; dan (ii) bahwa suara hati mestilah beralaskan mata hati dan norma: diungkapkan tetapi tidak secara sembarangan, melainkan melalui bahasa yang indah. Dalam makna seperti itu, kehadiran buku ini dimaksudkan untuk menyantuni sambung-rasa suara hati antar manusia.

Di dalam buku ini, puisi-puisi Anies MQ dikelompokkan ke dalam empat bagian. Bagian pertama melukiskan catatan tentang cinta. Judul dari bagian pertama ini - Aku tidak hanya suka dicintai, tetapi juga suka mendengar bahwa aku dicintai - memberi simpulan tentang suara batin perempuan. Keterkaitan tema dan kisah dari puisi-puisi pada bagian pertama tersebut mencuatkan gagasan untuk menamakan kumpulan karya Anies MQ ini sebagai suatu catatan harian puitis (a poetical diary). Puisi memang berpeluang besar untuk dipilih orang sebagai bentuk dari catatan hariannya.

Pada bagian kedua, disajikan catatan tentang sosok perempuan di tengah kedewasaannya dalam berperan sebagai ibu. Sedangkan bagian ketiga memotret berbagai sketsa kehidupan, panorama kisah yang memang pantas untuk dijadikan cermin bagi sesama. Bagian yang terakhir sangat kuat merepresentasikan ungkapan kesantunan yang saleh dari manusia yang serba terbatas dan selalu merasa kurang, yang penuh dosa, nafsu, dan ambisi -kepada Sang Pencipta, Yang Maha Cinta.

Untuk kenyamanan membaca, maka puisi-puisi dalam buku ini mengikuti format penulisan sebagai berikut: (i) jika panjang suatu baris melebihi lebar halaman, maka baris kelanjutannya dituliskan rata-kanan (right alignment), sejajar dengan huruf terakhir dari baris di atasnya; (ii) jika panjang suatu puisi melebihi satu halaman, maka di bagian kanan bawah halaman tersebut dituliskan satu-dua kata kelanjutannya, sebagaimana yang dimuat pada halaman berikutnya. Selamat menyantuni suara hati!



KOMENTAR

Dalam lembut batin seorang perempuan, diam bersangkar kekuatan. Dan kata-kata menjadi pengabdian, pengakuan, sumpah dan janji. Anies MQ adalah diam dan kata-kata. Puisi-puisinya menggelorakan hasrat romantis perempuan yang perkasa, perempuan yang bisa menguasai diri-sendiri.***
Hj. R.Ay. Sitoresmi Prabuningrat (pengamat seni)


Membaca puisi-puisi Anies MQ, saya seakan berada pada sebuah tempat yang jarang orang berani merambahnya. Sebuah sepi. Sebuah luka. Dan pencarian cinta. Ada sesuatu yang menggumpal di dalamnya. Bukan hanya itu saja, sebagai ibu rumah tangga seperti yang selalu diakuinya, Anies MQ banyak mengambil tema-tema yang sangat perempuan tentang kebiasaan baik-jelek peremĀ­puan. Pandangan-pandangannya tentang perempuan, dia tumpahkan dalam kata-kata yang padat di puisi-puisinya. Dalam beberapa puisi, Anies MQ juga mengeksplorasi perasaannya pada anak-anak dan generasi sekarang, khas seorang ibu dan perempuan.***
Kusmarwanti M. Idham
(penulis dan dosen Universitas Negeri Yogyakarta.)


Dalam puisi Mbak Anies, saya menemukan sosok perempuan. Adalah perempuan yang memiliki kekayaan cinta, ketulusan dan kepasrahan kepada Allah, tetapi ia juga punya ketegasan dalam memilih. Diksi yang dibangunnya sederhana, namun syarat makna. Mbak Anies menulis dengan lugas dan apa adanya. Tapi, itulah kejujuran suara hatinya. Melalui untaian bait-bait puisinya, Mbak Anies mengajak kita untuk kembali dan kembali pada-Nya.***
Evi Idawati
(penyair, cerpenis, novelis, aktris teater dan sinetron)



Catatan Mustofa W. Hasyim

P U I S I :
memintal rasa,
menganyam kata menjadi permadani jiwa

Salah satu hal yang membedakan manusia dengan makhluk lain semisal benda mati, tumbuhan dan hewan adalah, manusia dapat menulis puisi sedang makhluk lainnya tidak. Benda-benda yang membentuk pemandangan indah, makhluk mungil seperti kupu-kupu indah yang terbang di antara bunga yang tak kalah indahnya, ternyata hadir hanya untuk mewartakan keindahan cinta Tuhan kepada makhluk-Nya dan hanya manusia yang dapat memaknakan kehadiran keindahan benda, tumbuhan dan hewan itu menjadi puisi, lukisan atau karya lagu. Manusia mampu hadir untuk memaknakan kehadiran semua makhluk itu, termasuk dirinya sendiri. Oleh karena karya seni yang dilahirkan dari proses pemaknaan yang terus-menerus ini menjadi hampir tidak terbatas tema garapnya, maka tema keindahan alam, keindahan tumbuhan dan hewan, juga tema tentang keindahan berbagai musim dengan mudah digarap oleh manusia menjadi karya seni, termasuk puisi. Demikian juga tema-tema yang menyangkut pengalaman hidup manusia yang amat banyak ragamnya. Pengalaman manis dan indah, pengalaman pahit dan getir, pengalaman suka dan duka, pengalaman rindu dan terluka hati, pengalaman konflik batin yang mendebarkan dan menggelisahkan, atau malah menakutkan, juga pengalaman damai, tenteram, pasrah, perasaan menyatu dengan penyatuan yang indah, atau pengalaman meninggalkan dan ditinggalkan yang mengharu-biru perasaan, semua dapat ditulis dan dijadikan bahan penulisan puisi. Dalam proses penggarapannya, manusia kreatif sering meminjam simbol-simbol, yang berasal dari alam benda, alam tumbuhan dan alam binatang serta dari alam semesta agar maksudnya tersampaikan. Penggunaan simbol-simbol itu dan mengolahnya menjadi makna simbolik dari pengalaman batin manusia menjadi wajar dan banyak dilakukan manusia kreatif, termasuk para penulis puisi atau yang masyhur disebut penyair. Ini seringkali menjadi sangat efektif, lantaran dalam benak pembaca telah tersedia referensi atau rujukan pengalaman bergaul dengan alam benda, alam tumbuhan, alam binatang dan alam semesta itu. Ketika terjadi pemaknaan baru terhadap berbagai alam dan pengalaman itu, pembaca tidak begitu kaget, sebab ia telah mengenalnya lebih dahulu. Justru pemaknaan baru ini kemudian memberi kekayaan batin yang baru bagi pembaca ... Memang, salah satu tugas atau fungsi kreatif penulis puisi adalah memberi pemaknaan baru atas berbagai kenyataan alam dan pengalaman yang didapat selama hidupnya itu. Tanpa pemaknaan baru, hal ihwal yang ditulis penyair hanya akan menjadi klise, slogan atau menjadi sekadar potret atau peniruan yang tidak sempurna dari hal-hal yang hadir di berbagai alam dan pengalaman itu. Mengapa pemaknaan baru ketika menulis puisi menjadi mungkin dilakukan? Sebab pada hakikatnya menulis puisi adalah memintal serabut lembut dari rasa dan perasaan, kemudian menganyam atau menenun kata-kata yang mewakili benang-benang penghayatan atas rasa dan perasaannya, sehingga akhirnya menjadi permadani jiwa yang amat indah dan utuh, sekaligus terbuka terhadap tafsir dan pemaknaan dari pembacanya. Proses ini sangat rumit, lembut, tetapi kadang mengguncang dan mendebarkan, menggelisahkan atau mencemaskan, tetapi selalu berakhir dengan kenyamanan jiwa yang tiada tara. Manusia yang berhasil menulis suatu puisi mirip dengan perempuan hamil yang habis melahirkan anaknya. Perjuangan untuk memelihara benih-benih puisi dan perjuangan melahirkannya seringkali amat susah dan melewati waktu yang tidak pasti. Setelah suatu puisi berhasil ditulis, maka penyairnya menjadi lega, nyaman, dan seringkali kaget karena karya yang ia buat terasa lebih bagus dari yang ia bayangkan semula. Kalau permadani jiwa telah jadi dan hadir, kita dapat berbaring di atasnya, atau diam-diam memandangnya penuh pesona. Makin lama dipandang, pesona itu makin nyata dan makin kuat memancar darinya. Dalam konteks dan proses seperti di atas, puisi-puisi yang ditulis Mbak Anies MQ ini hadir di hadapan kita semua. Coba simak puisi berjudul Kubalas dengan Cinta ini.

: bisumu
kubalas dengan cinta
yang tersembunyi
dari reruntuhan lara
aku menyesal, kasih
mengapa tiada kubuka pintu
saat kau mengetuk sepiku
- diisak malammu

: usai sudah ku meronta
bisumu, kini
kubalas dengan cinta

15-01-2006

Cukup manis dan terasa dalam bukan? Cinta menjadi alat untuk membalas kebisuan sang kekasih. Cinta tumbuh kian subur di tengah penyesalan karena menolak membuka pintu sepi di saat dibutuhkan kekasih. Kebisuan, mungkin berakar dari kemarahan atau entah apa, kemudian justru mendapat balasan cinta. Kuatnya anyaman kata-kata yang berasal dari pintalan rasa cinta, juga dapat dilihat dari puisi berjudul Kesetiaan:

: ornamen teh
Tertuang aku
jatuh
di cangkirmu
- dipeluk hangatmu
sesaat terpejam matamu
cium wangiku
- alami
dan kulirik ekspresimu
: terlalu maniskah aku?
atau
: hambar tiada rasa?
(dan, ada cinta di sinar matamu)
: ku tak bisa jauh darimu, bisikmu memuji
: ah..,
(angin surga membelaiku)
..
..
: selamat jalan ...
aku bangga mendampingimu

26-12-2006

Puisi-puisi bernada lembut semacam ini banyak ditemukan dalam kumpulan puisi ini. Karena kepekaan hati dan jiwa penulisnya, maka secangkir teh hangat pun dapat dimaknakan sebagai simbol cinta yang menghanyutkan. Kegelisahan untuk dinikmati karena tidak tahu apakah diri ini akan memuaskan atau tidak, apakah kehadiran dan penyerahannya terasa manis atau hambar, terekam betul lewat simbol secangkir teh ini. Meski begitu, kedekatan antara secangkir teh dengan bibir sang penikmat teh adalah sedekat hati kekasih dengan kekasih. Maka, meski akan terjadi perpisahan, muncul kebanggaan karena secangkir teh itu telah setia mendampingi sang peminum teh sampai saat cakrawala usia tiba menjemput, lewat misteri waktu yang tidak seorang manusia pun mengetahui rahasia dan kepastiannya. Tentu saja hidup tidak semulus jalan tol. Hidup ini lebih mirip dengan rimba belantara yang di dalamnya menghadang onak, duri, bukit terjal, jurang menganga, jebakan, godaan, ancaman binatang buas, makhluk beracun, juga tipuan kenikmatan. Di antara bunga anggrek yang indah dan buah ranum, menjalar ular yang meski lembut dan tampak jinak tetap berbahaya bagi keselamatan jiwa. Hidup juga mirip dengan lingkungan kota yang penuh tikungan nasib dengan jalan-jalannya yang ruwet dan macet. Untuk menempuh keselamatan dan kemuliaan surga diperlukan langkah hati-hati. Meski demikian, sebagai makhluk lemah dan mudah tergoda, manusia sering khilaf dan terpenjara oleh kenangan dan masa silam yang sesungguhnya sia-sia untuk diharap kembali. Yang penting adalah masa depan, dan masa yang lebih ke depan lagi, dunia dan alam di balik dunia ini. Kekhilafan dan alpa sering menggelisahkan manusia. Menerbitkan rasa bersalah dan dosa. Ini wajar dan dialami oleh semua manusia. Perjuangan untuk senantiasa menyucikan diri dan menyucikan jiwa sehingga pada akhir perjalanan di dunia dapat panen dan menuai kemenangan sungguh berat, tetapi harus tetap dilakukan dengan penuh harap, dengan menata hati, menata perilaku, beribadah, dan menjadikan doa sebagai pengawal waktu-waktunya. Pengalaman relijius semacam ini juga terpantul dalam puisi-puisi Mbak Anies MQ ini, misalnya dalam puisi-puisi: Khilaf; Oh; Izinkan Aku Memilih, Cut Sephia; Jangan Sembunyi; Kufur Suami; Dimana Surga Berada; Pengakuan; Duh Gusti; Dzikrulloh; Pohon Surga; Taubat (1); dan Taubat (2). Ada bait yang indah: Kubiarkan air mata ini menganak / Memandikan jiwa penuh noda, tulis Mbak Anies MQ. Kalau dicermati dan dihayati, maka akan terbaca dan tertangkap begitu banyak pesan cinta dalam kumpulan puisi ini. Boleh dikata, kumpulan puisi ini bernafaskan cinta belaka. Ini menunjukkan, bagi penulisnya, cinta adalah sesuatu yang amat penting, bahkan sesuatu yang paling penting dalam hidup ini. Cinta pada kekasih, keluarga, Tuhan. Coba amati dan simak puisi berjudul Puisi Sunyi; Tears in Love; Hingga Mawar Mengering; Siapakah Diriku; Masih Ada Cinta Sejati; Baturaden; Borobudur; Mengapa Tuhan Titipkan Cinta; Di Ujung Malam dengan Cinta; Aku Ingin Pulang; Bagaimana Mencintaimu; Kau Sunting Aku dalam Hamdalah; Engkau yang Kupilih.

Engkau,
datang tanpa arah
singgah
menyangga langit
sampaikan pesan matahari
- yang tak henti mencintai
Merpati Sulaiman kembali
titipkan pesan
Di Padang Asyar kita berjejer
- antri
Ucapkan janji abadi,
Engkau yang kupilih.

Bagi yang telah sampai pada penghayatan atas hakikat cinta, semua menjadi tampak indah. Hidup menjadi taman. Hidup di dunia terasa memasuki taman. Alam akhirat nanti juga akan menjadi taman, salah satu arti surga adalah taman. Taman hati, taman jiwa, taman kata-kata. Dan puisi dapat menjadi penjaga keindahan taman kehidupan ini. Oleh karena itu wajar, puisi akan selalu ditulis oleh manusia yang merindukan dan mendambakan taman-taman surgawi dalam seluruh kehidupannya. Semoga demikianlah adanya. Semoga Allah subhanahu wa taala senantiasa merahmati dan mencintai kita semua. Amin.

Daftar Isi
  • Prakata
  • Dari Penulis
  • Tentang Penulis
  • Kata Pengantar
  • Komentar Pembaca
  • Daftar Isi
    • Bagian I:

    • "Aku tidak hanya suka dicintai,tetapi juga suka mendengar bahwa aku dicintai."
      • Mengapa Tuhan Titipkan Cinta
      • Putri Malu
      • Mawar Ber-embun
      • Tidak Peduli
      • Nyanyikan Laguku
      • Gerimis di Batas Kota
      • Baturaden
      • Pelaminan Maya
      • Peraduan Kita Telah Dingin
      • Air Mata di Bulan Juli
      • Setangkai Bunga untuk Pengecut
      • Tears in Love
      • Puisi Sunyi
      • Masih Ada Cinta Sejati
      • Di Ujung Malam Dengan Cinta
      • Senandung Malam
      • Aku Tahu Engkau Terluka
      • Jangan Sembunyi
      • Hingga Mawar Mengering
      • Dia yang Gelap
      • A Crazy Wild Orchid
      • Seharusnya Melupakanmu
      • Ketika
      • Kau Sunting Aku dalam Hamdallah
      • Pria Tanpa Nama
      • Ajari Aku Jatuh Cinta
      • Bagaimana Mencintaimu
      • Engkau yang Kupilih
      • Rahasia Wanita
      • "Borobudur" Manis-ku Siapakah Diriku? "Oh"
      • Khilaf
      • Hati Wanita
      • Saat Kau Panggil Aku, Jeng
      • Sang Perawan
      • Kubalas dengan Cinta
      • Aku Ingin Pulang
      • Kesetiaan
      • Selamat Jalan, Jingga
      • Puisi Terakhir
    • Bagian II: Doa dan Harapan Ibu
      • Ci Luk Ba
      • Anissa, Dendang Ibunda
      • Apa yang Kau Cari?
      • Dimana Surga Berada?
      • Jangan Menangis, Bunda
    • Bagian III :Kisah dan Cermin Hidup
      • Wanita Qonita
      • Kerudung Ratih
      • Guru
      • Izinkan Aku Memilih, Cut Sephia
      • Wanita Sial
      • Wanita Ahli Neraka
    • Bagian IV : Duh Gusti
      • Pengakuan
      • Duh, Gusti!
      • Air Mata dari Surga
      • Kufur Suami
      • Cahaya Jilbab
      • Pohon Surga
      • Jiwa Berkabar
      • Taubat [1]
      • Taubat [2]
      • Dzikrulloh
K o l e k s i    B u k u :
BAHASA & SASTRA

Dr. Tadkiroatun Musfiroh, M.Hum
Psikolinguistik Edukasional
Psikolinguistik untuk Pendidikan Bahasa
Edisi Kedua

Hary Gunarto
Glossary of Information Technology and Computer Terms : English-Indonesian-Malay

Mabel Powers
Dongeng Anak Indian Iroquois

Dr. Mulyana, M.Hum.
Bahasa Jawa Kreatif:
Panduan Lengkap Menulis dalam Bahasa Jawa

Soeparno
Dasar-Dasar Linguistik Umum, Edisi Kedua

Safarina HD
Parkit: Sebuah Antologi Puisi

Tri Irianto
Bau Bayi Terapiku dan 20 Cerita Pendek Lainnya

Kariyoso Haji
Bianglala Gerimis Senja
(Jangan Pernah Ragukan Cintaku)

Pardi Suratno & Yudianti Herawati
Perjalanan Puisi Kalimantan Timur: dari Orde Lama hingga Kontemporer

Prof. Soeparno
Aliran Tagmemik: Teori, Analisis, dan Penerapan dalam Pembelajaran Bahasa

Anwar Efendi
Bahasa & Sastra Dalam Berbagai Perspektif

Dr. Ibnu Burdah, MA
Bahasa Arab Internasional

Ahmad Sangid & Indra Gunawan
Kamus Percakapan Bahasa Arab Sehari-Hari

Anies MQ
Duh Gusti, Ajari Aku Jatuh Cinta
a poetical diary by Anies MQ

Pangesti Wiedarti, Ph.D. (editor)
Menuju Budaya Menulis, Suatu Bunga Rampai

H.Akhmad Sangid
Kamus Istilah Arab Indonesia

Mulyana
Kajian Wacana

Ibnu Burdah
Menjadi Penerjemah: Metode dan Wawasan Menerjemah Teks Arab

Dibyo
Samin, Manusia Kontroversial

F.C. Winter dan T. Soegiatno
Kamus Jawa-Belanda, Belanda-Jawa
 Copyright © 2017
Website designed by
Penerbit Tiara Wacana